Jejak Anies - Bagaimana sebuah bangsa bisa melangkah jauh jika ia kehilangan arah dan jarak pandangnya? Ketika ketidakpastian hukum merayap masuk ke setiap sendi kebijakan, kemampuan kita sebagai sebuah bangsa untuk menyusun rencana jangka panjang seketika runtuh.
Saat aturan seperti kenaikan pajak dapat diubah mendadak hanya dalam semalam—memaksa para pelaku usaha pontang-panting mengubah harga dan pembukuan esok paginya—negara ini sedang mengirimkan pesan berbahaya bahwa masa depan adalah hal yang tidak bisa diperkirakan.
Akibatnya, masyarakat mulai mengambil langkah defensif dengan memotong mimpi-mimpi mereka. Petani tidak lagi berani menanam pohon yang baru berbuah sepuluh tahun kemudian; mereka beralih ke tanaman yang bisa dipanen dalam tiga bulan saja. Pemilik warung memilih menahan diri dan tidak berani mengambil pinjaman untuk memperbesar usahanya. Para pengusaha lebih memilih menjadi pedagang instan ketimbang membangun pabrik-pabrik padat karya yang sarat ketidakpastian. Bahkan, para birokrat di jajaran pemerintahan pun memilih diam, enggan mengambil keputusan apa pun yang tidak diperintahkan langsung dari pucuk kekuasaan.
Dilihat satu per satu, semua pilihan hidup tersebut terasa sangat rasional demi bertahan hidup. Namun, secara kumulatif, akumulasi dari keputusan-keputusan defensif ini menjelma menjadi sebuah bencana besar bagi masa depan.
Kita sedang mewariskan hal yang bertolak belakang dengan apa yang diperjuangkan oleh generasi pendahulu kita. Republik ini dahulu didirikan oleh orang-orang berjiwa besar yang berani menanam sesuatu yang hasilnya mereka ketahui tidak akan sempat mereka petik sendiri. Hari ini, ketidakpastian hukum memaksa kita menjadi generasi yang hanya berani berhitung pendek. Tanpa keberanian untuk berinvestasi pada panen yang masih jauh, republik ini mungkin tidak akan runtuh, tetapi ia dipastikan akan berhenti bertumbuh.
